Lebih tepatnya Minggu, 28 September 2008 kemarin saya kembali bertemu dengan teman-teman yang dulu sama-sama terlihat cukup standar dengan rok biru yaitu seragam SMP nasional mungkin...
Bertemu mereka lagi rasanya review masa lalu terus berputar di kepala saya sampai saat ini. Cukup terasa ternyata perbedaan masa hingga sekarang. Saya menilai diri saya cukup mengucilkan diri saat dulu. Hanya karena badan saya yang berbobot lebih pada masa itu, saya terbiasa menerima penolakan.
Tidak banyak teman, jarang bertukar pikiran hingga akhirnya saya bersifat sinis dan cukup skeptik dalam berpandangan akan suatu hal. Sifat saya terbawa hingga masa SMU yang pada akhirnya saat saya baru berada di lingkungan baru tidak banyak juga yang menentukan pilihan untuk berteman dengan saya.
Kritikan selalu saya terima setiap hari. Pada awalnya saya marah. Saya bertanya kepada mereka, "Kenapa selalu saya?", "Apakah hanya saya dengan hal buruk?". Saya bercermin memperhatikan bagaimana jeleknya muka saya saat itu...Selalu sinis, jarang tersenyum, egois dalam mengambil keputusan, berbicara tanpa pikir panjang, dsb.
Teman-teman kelas satu saya yang saya rasa paling mengerti hal ini. Muncul senyum saya saat ini. Makna yang besar saya rasakan sekarang. Bagaimana teman-teman saya mencintai saya sehingga ingin saya menmpati ruang di hati mereka tanpa ada keganjilan dari diri saya yang akan lebih merusak makna pertemanan dengan yang baru.
Kemarin beberapa teman saya berkomentar bahwa saya cukup berubah dalam hal bersikap. Saya tidak merasa lebih baik sebenarnya, tapi setidaknya hal itu mampu membayar kesinisan saya beberapa tahun lalu. Setelah menerima kritikan kanan kiri pada akhirnya saya merasa hal itu menjadi konsumsi wajib saya setiap saya mengenal orang baru.
Setiap kritik yang terlontar untuk saya dengan bahagia saya akan menyimpannya. Saya endapkan dan entah butuh waktu berapa lama hingga bisa dimuntahkan keluar. Terutama dari orang yang mendapat porsi kasih sayang cukup besar dari diri, saya mengharpkan kritik paling pedas. Karena saya anggap bohong jika tanpa hal dia tidak suka dia tetap mencintai saya.
Kritik yang membangun pribadi saya, kritik yang mendewasakan saya, kritik bukan lain karena cinta. Saat kritik mulai terlontar pertanda mereka mau mengenal saya. Kita dilahirkan putih. Apa warna yang kita pilih sepanjang perjalanan tidak ada yang menentukan selain tunjuk dari diri. Tidak ada perasaan lebih baik sebenarnya, hanya haus akan tujuan untuk seimbang. Kalau ada putih, seharusnya memang ada hitam. Setidaknya jika kita butuh teknik untuk pondasi rumah, sepenting itu jugakah kita butuh untuk diri?